Subscribe:

Sabtu, 11 Januari 2014

NAMA-NAMA 25 NABI DAN RASUL SERTA SIFAT-SIFAT WAJIB BAGI ALLAH



alam agama islam terdapat 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui dengan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang terakhir untuk seluruh umat spanjang masa, yaitu :
1. Adam AS.
2. Idris AS.
3. Nuh AS.
4. Hud AS.
5. Soleh AS.
6. Ibrahim AS.
7. Luth AS.
8. Ismail AS.
9. Ishak AS.
10. Yakub AS.
11. Yusuf AS.
12. Ayub AS.
13. Sueb AS.
14. Musa AS.
15. Harun AS.
16. Zulkifli AS.
17. Daud AS.
18. Sulaiman AS.
19. Ilyas AS.
20. Ilyasa AS.
21. Yunus AS.
22. Zakaria AS.
23. Yahya AS.
24. Isa AS.
25. Muhammad SAW.
Nabi yang mendapat julukan Ulul Azmi atau nabi/rasul yang memiliki ketabahan yang luar biasa dalam menjalankan kenabiannya :
1. Nuh AS.
2. Ibrahim AS.
3. Musa AS.
4. Isa AS.
5. Muhammad SAW.


Rukun iman dalam agama islam ada 6 (enam). Salah satunya adalah iman kepada malaikat. Iman kepada malaikat artinya meyakini bahwa Allah SWT memiliki malaikat-malaikat yang diciptakanNya. Ada 10 Malaikat yang wajib diketahui, sepuluh malaikat tersebut yaitu:
  1. Malaikat Jibril
  2. Malaikat Mikail
  3. Malaikat Israfil
  4. Malaikat Izrail
  5. Malaikat Munkar
  6. Malaikat Nakir
  7. Malaikat Raqib
  8. Malaikat Atid
  9. Malaikat Malik
  10. Malaikat Ridwan
Tugas-tugas dari para 10 malaikat tersebut yaitu:
  • Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
  • Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia
  • Malaikat Israil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
  • Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa
  • Malaikat Munkar dan Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup
  • Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia
  • Malaikat Atib bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
  • Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka
  • Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu surga.

20 sifat wajib ALLAH dan penjelasannya

berhubung sekarang banyak aliran sesat,(syiah,darul arqam,wahabi,salafi,millata abraham,islam liberal,ldii,mukmin mubaligh) saya posting artikel tentang tauhid ahlus sunnah wal jamaah.
1. Wujud : Artinya Ada
Yaitu tetap dan benar yang wajib bagi zat Allah Ta’ala yang tiada disebabkan dengan sesuatu sebab. Maka wujud ( Ada ) – disisi Imam Fakhru Razi dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi bukan ia a’in maujud dan bukan lain daripada a’in maujud , maka atas qaul ini adalah wujud itu Haliyyah ( yang menepati antara ada dengan tiada) . Tetapi pada pendapat Imam Abu Hassan Al-Ashaari wujud itu  ‘ain Al-maujud , karena wujud itu zat maujud karena tidak disebutkan wujud melainkan kepada zat. Kepercayaan bahwa wujudnya Allah SWT. bukan saja di sisi agama Islam tetapi semua kepercayaan di dalam dunia ini mengaku menyatakan Tuhan itu ada. Firman Allah SWT. yang bermaksud :
” Dan jika kamu tanya orang-orang kafir itu siapa yang menjadikan langit dan bumi nescaya berkata mereka itu Allah yang menjadikan……………” ( Surah Luqman : Ayat 25 )
2. Qidam : Artinya Sedia
Pada hakikatnya menafikan ada permulaan wujud Allah SWT karena Allah SWT. menjadikan tiap-tiap suatu yang ada, yang demikian tidak dapat tidak keadaannya lebih dahulu daripada tiap-tiap sesuatu itu. Jika sekiranya Allah Ta’ala tidak lebih dahulu daripada tiap-tiap sesuatu, maka hukumnya adalah mustahil dan batil. Maka apabila disebut Allah SWT. bersifat Qidam maka jadilah ia qadim. Di dalam Ilmu Tauhid ada satu perkataan yang sama maknanya dengan Qadim Yaitu Azali. Setengah ulama menyatakan bahwa kedua-dua perkataan ini sama maknanya Yaitu sesuatu yang tiada permulaan baginya. Maka qadim itu khas dan azali itu am. Dan bagi tiap-tiap qadim itu azali tetapi tidak boleh sebaliknya, Yaitu tiap-tiap azali tidak boleh disebut qadim. Adalah qadim dengan nisbah kepada nama terbahagi kepada empat bagian :
·        Qadim Sifati ( Tiada permulaan sifat Allah Ta’ala )
·        Qadim Zati ( Tiada permulaan zat Allah Ta’ala )
·        Qadim Idhafi ( Terdahulu sesuatu atas sesuatu seperti terdahulu bapa nisbah kepada anak )
·        Qadim Zamani ( Lalu masa atas sesuatu sekurang-kurangnya satu tahun )
Maka Qadim Haqiqi ( Qadim Sifati dan Qadim Zati ) tidak harus dikatakan lain daripada Allah Ta’ala.
3. Baqa’ : Artinya Kekal
Sentiasa ada, kekal ada dan tiada akhirnya Allah SWT . Pada hakikatnya ialah menafikan ada kesudahan bagi wujud Allah Ta’ala. Adapun yang lain daripada Allah Ta’ala , ada yang kekal dan tidak binasa Selama-lamanya tetapi bukan dinamakan kekal yang hakiki ( yang sebenar ) Bahkan kekal yang aradhi ( yang mendatang jua seperti Arasy, Luh Mahfuz, Qalam, Kursi, Roh, Syurga, Neraka, jisim atau jasad para Nabi dan Rasul ). Perkara –perkara tersebut kekal secara mendatang tatkala ia bertakluq dengan Sifat dan Qudrat dan Iradat Allah Ta’ala pada mengekalkannya. Segala jisim semuanya binasa melainkan ‘ajbu Az-zanabi ( tulang kecil seperti biji sawi letaknya di tungking manusia, itulah benih anak Adam ketika bangkit daripada kubur kelak ). Jasad semua nabi-nabi dan jasad orang-orang syahid berjihad Fi Sabilillah yang mana ianya adalah kekal aradhi jua. Disini nyatalah perkara yang diiktibarkan permulaan dan kesudahan itu terbahagi kepada 3 bagian :
·        Tiada permulaan dan tiada kesudahan Yaitu zat dan sifat Alllah SWT.
·        Ada permulaan tetapi tiada kesudahan Yaitu seperti Arash, Luh Mahfuz , syurga dan lain-lain lagi.
·        Ada permulaan dan ada kesudahan Yaitu segala makhluk yang lain daripada perkara yang diatas tadi ( Kedua ).
4. Mukhalafatuhu Ta’ala Lilhawadith. Artinya : Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.
Pada zat , sifat atau perbuatannya sama ada yang baru , yang telahada atau yang belum ada. Pada hakikat nya adalah menafikan Allah Ta’ala menyerupai dengan yang baharu pada zatnya , sifatnya atau perbuatannya. Sesungguhnya zat Allah Ta’ala bukannya berjirim dan bukan aradh Dan tiada sesekali zatnya berdarah , berdaging , bertulang dan juga bukan jenis leburan , tumbuh-tumbuhan , tiada berpihak ,tiada bertempat dan tiada dalam masa. Dan sesungguhnya sifat Allah Ta’ala itu tiada bersamaan dengan sifat yang baharu karena sifat Allah Ta’ala itu qadim lagi azali dan melengkapi ta’aluqnya. Sifat Sama’ ( Maha Mendengar ) bagi Allah Ta’ala berta’aluq ia pada segala maujudat tetapi bagi mendengar pada makhluk hanya pada suara saja. Sesungguhnya di dalam Al-Quraan dan Al-Hadith yang menyebut muka dan tangan Allah SWT. , maka perkataan itu hendaklah kita iktiqadkan thabit ( tetap ) secara yang layak dengan Allah Ta’ala Yang Maha Suci daripada berjisim dan Maha Suci Allah Ta’ala bersifat dengan segala sifat yang baharu.
5. Qiyamuhu Ta’ala Binafsihi : Artinya : Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya .
Tidak berkehendak kepada tempat berdiri ( pada zat ) dan tidak berkehendak kepada yang menjadikannya Maka hakikatnya ibarat daripada menafikan Allah SWT. berkehendak kepada tempat berdiri dan kepada yang menjadikannya. Allah SWT itu terkaya dan tidak berhajat kepada sesuatu sama adapada perbuatannya atau hukumannya. Allah SWT menjadikan tiap-tiap sesuatu dan mengadakan undang-undang semuanya untuk faedah dan maslahah yang kembali kepada sekalian makhluk . Allah SWT menjadikan sesuatu ( segala makhluk ) adalah karena kelebihan dan belas kasihannya bukan berhajat kepada faedah. Allah SWT. Maha Terkaya daripada mengambil apa-apa manafaat di atas kataatan hamba-hambanya dan tidak sesekali menjadi mudharat kepada Allah Ta’ala atas sebab kemaksiatan dan kemungkaran hamba-hambanya. Apa yang diperintahkan atau ditegah pada hamba-hambanya adalah perkara yang kembali faedah dan manafaatnya kepada hamba-hambaNya jua. Firman Allah SWT. yang bermaksud :
” Barangsiapa berbuat amal yang soleh ( baik ) maka pahalanya itu pada dirinya jua dan barangsiapa berbuat jahat maka balasannya (siksaannya ) itu tertanggung ke atas dirinya jua “. ( Surah Fussilat : Ayat 46 ). Syeikh Suhaimi r.a.h berkata adalah segala yang maujudat itu dengan nisbah berkehendak kepada tempat dan kepada yang menjadikannya, terbahagi kepada empat bagian :
·        Terkaya daripada tempat berdiri dan daripada yang menjadikannya Yaitu zat Allah SWT.
·        Berkehendak kepada tempat berdiri dan kepada yang menjadikannya Yaitu segala aradh ( segala sifat yang baharu ).
·         Terkaya daripada zat tempat berdiri tetapi berkehendak kepada yang menjadikannya Yaitu segala jirim. ( Segala zat yang baharu ) .
·        Terkaya daripada yang menjadikannya dan berdiri ia pada zat Yaitu sifat Allah Ta’ala.
6. Wahdaniyyah. Artinya : Esa Allah Ta’ala pada zat, pada sifat & pada perbuatan.
Maka hakikatnya ibarat daripada menafikan berbilang pada zat, pada sifat dan pada perbuatan sama ada bilangan yang muttasil (yang berhubung ) atau bilangan yang munfasil ( yang bercerai ).
Makna Esa Allah SWT pada zat itu Yaitu menafikan Kam Muttasil pada Zat ( menafikan bilangan yang berhubung dengan zat ) seperti tiada zat Allah Ta’ala tersusun daripada darah , daging , tulang ,urat dan lain-lain. Dan menafikan Kam Munfasil pada zat ( menafikan bilangan yang bercerai pada zat Allah Ta’ala )seperti tiada zat yang lain menyamai zat Allah Ta’ala.
Makna Esa Allah SWT pada sifat Yaitu menafikan Kam muttasil pada Sifat ( menafikan bilangan yang berhubung pada sifatnya ) Yaitu tidak sekali-kali bagi Allah Ta’ala pada satu-satu jenis sifatnya dua qudrat dan menafikan Kam Munfasil pada sifat ( menafikan bilangan –bilangan yang bercerai pada sifat ) Yaitu tidak ada sifat yang lain menyamai sebagaimana sifat Allah SWT. yang Maha Sempurna.
Makna Esa Allah SWT pada perbuatan Yaitu menafikan Kam Muttasil pada perbuatan ( menafikan bilangan yang bercerai–cerai pada perbuatan ) Yaitu tidak ada perbuatan yang lain menyamai seperti perbuatan Allah bahkan segala apa yang berlaku di dalam alam semuanya perbuatan Allah SWT sama ada perbuatan itu baik rupanya dan hakikatnya seperti iman dan taat atau jahat rupanya tiada pada hakikat-nya seperti kufur dan maksiat sama ada perbuatan dirinya atau perbuatan yang lainnya ,semuanya perbuatan Allah SWT dan tidak sekali-kali hamba mempunyai perbuatan pada hakikatnya hanya pada usaha dan ikhtiar yang tiada memberi bekas. Maka wajiblah bagi Allah Ta’ala bersifat Wahdaniyyah dan ternafi bagi Kam yang lima itu Yaitu :
1.            Kam Muttasil pada zat.
2.            Kam Munfasil pada zat.
3.            Kam Muttasil pada sifat.
4.            Kam Munfasil pada sifat.
5.            Kam Munfasil pada perbuatan.
Maka tiada zat yang lain , sifat yang lain dan perbuatan yang lain menyamai dengan zat , sifat dan perbuatan Allah SWT . Dan tertolak segala kepercayaan-kepercayaan yang membawa kepada menyekutukan Allah Ta’ala dan perkara-perkara yang menjejaskan serta merusakkan iman.
7. Al – Qudrah : Artinya : Kuasa qudrah Allah SWT.
Memberi bekas pada mengadakan meniadakan tiap-tiap sesuatu. Pada hakikatnya ialah satu sifat yang qadim lagi azali yang thabit ( tetap ) berdiri pada zat Allah SWT. yang mengadakan tiap-tiap yang ada dan meniadakan tiap-tiap yang tiada bersetuju dengan iradah. Adalah bagi manusia itu usaha dan ikhtiar tidak boleh memberi bekas pada mengadakan atau meniadakan , hanya usaha dan ikhtiar pada jalan menjayakan sesuatu . Kepercayaan dan iktiqad manusia di dalam perkara ini berbagai-bagaiFikiran dan fahaman seterusnya membawa berbagai-bagai kepercayaan dan iktiqad.
a. Iktiqad Qadariah :
Perkataan qadariah Yaitu nisbah kepada qudrat . Maksudnya orang yang beriktiqad akan segala perbuatan yang dilakukan manusia itu sama ada baik atau jahat semuanya terbit atau berpunca daripada usaha dan ikhtiar manusia itu sendiri dan sedikitpun tiada bersangkut-paut dengan kuasa Allah SWT.
b.  Iktiqad Jabariah :
Perkataan Jabariah itu nisbah kepada Jabar ( Tergagah ) dan maksudnya orang yang beriktiqad manusia dan makhluk bergantung kepada qadak dan qadar Allah semata-mata ( tiada usaha dan ikhtiar atau boleh memilih samasekali ).
c. Iktiqad Ahli Sunnah Wal – Jamaah :
Perkataan Ahli Sunnah Wal Jamaahialah orang yang mengikut perjalanan Nabi dan perjalanan orang-orang Islam Yaitu beriktiqad bahwa hamba itu tidak digagahi semata-mata dan tidak memberi bekas segala perbuatan yang disengajanya, tetapi ada perbuatan yang di sengaja pada zahir itu yang dikatakan usaha dan ikhtiar yang tiada memberi bekas sebenarnya sengaja hamba itu daripada Allah Ta;ala jua. Maka pada segala makhluk ada usaha dan ikhtiar pada zahir dan tergagah pada batin dan ikhtiar serta usaha hamba adalah tempat pergantungan taklif ( hukum ) ke atasnya dengan suruhan dan tegahan ( ada pahala dan dosa ).
8. Iradah : Artinya : Menghendaki Allah Ta’ala.
Maksudnya menentukan segala mumkin ttg adanya atau tiadanya. Sebenarnya adalah sifat yang qadim lagi azali thabit berdiri pada Zat Allah Ta’ala yang menentukan segala perkara yang harus atau setengah yang harus atas mumkin . Maka Allah Ta’ala yang selayaknya menghendaki tiap-tiap sesuatu apa yang diperbuatnya. Umat Islam beriktiqad akan segala hal yang telah berlaku dan yang akan berlaku adalah dengan mendapat ketentuan daripada Allah Ta’ala tentang rezeki , umur , baik , jahat , kaya , miskin dan sebagainya serta wajib pula beriktiqad manusia ada mempunyai nasib ( bagian ) di dalam dunia ini sebagaimana firman Allah SWT. yang bermaksud : ” Janganlah kamu lupakan nasib ( bagian ) kamudi dalam dunia ” . (Surah Al – Qasash : Ayat 77). Kesimpulannya ialah umat Islam mestilah bersungguh-sungguh untuk kemajuan di dunia dan akhirat di mana menjunjung titah perintah Allah Ta’aladan menjauhi akan segala larangan dan tegahannyadan bermohon dan berserah kepada Allah SWT.
9. ‘Ilmu :  Artinya : Mengetahui Allah Ta’ala .
Maksudnya nyata dan terang meliputi tiap-tiap sesuatu sama ada yangMaujud (ada) atau yang Ma’adum ( tiada ). Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada ( thabit ) qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala Maha Mengetahui akan segala sesuatu sama ada perkara. Itu tersembunyi atau rahasia dan juga yang terang dan nyata. Maka ’ilmu Allah Ta’ala Maha Luas meliputi tiap-tiap sesuatu diAlam yang fana’ ini.

10. Hayat . Artinya : Hidup Allah Ta’ala.
Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Ta’ala . Segala sifat yang ada berdiri pada zat daripada sifat Idrak ( pendapat ) Yaitu : sifat qudrat, iradat , Ilmu , Sama’ Bashar dan Kalam.
11. Sama’ : Artinya : Mendengar Allah Ta’ala.
Hakikatnya ialah sifat yang tetap ada yang qadim lagi azali berdiri pada Zat Allah Ta’ala. Yaitu dengan terang dan nyata pada tiap-tiap yang maujud sama ada yang maujud itu qadim seperti ia mendengar kalamnya atau yang ada itu harus sama ada atau telah ada atau yang akan diadakan. Tiada terhijab (terdinding ) seperti dengan sebab jauh , bising , bersuara , tidak bersuara dan sebagainya. Allah Ta’ala Maha Mendengar akan segala yang terang dan yang tersembunyi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang bermaksud :
” Dan ingatlah Allah sentiasa Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.
( Surah An-Nisa’a – Ayat 148 )
12. Bashar : Artinya : Melihat Allah Ta’ala .
Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada yang qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala wajib bersifat Maha Melihat sama ada yang dapat dilihat oleh manusia atau tidak, jauh atau dekat , terang atau gelap , zahir atau tersembunyi dan sebagainya. Firman Allah Ta’ala yang bermaksud : ” Dan Allah Maha Melihat akan segala yang mereka kerjakan “. ( Surah Ali Imran – Ayat 163 )
13 .Kalam : Artinya : Berkata-kata Allah Ta’ala.
Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada , yang qadim lagi azali , berdiri pada zat Allah Ta’ala. Menunjukkan apa yang diketahui oleh ilmu daripada yang wajib, maka ia menunjukkan atas yang wajib sebagaimana firman Allah Ta’ala yang bermaksud : ” Aku Allah , tiada tuhan melainkan Aku ………”. ( Surah Taha – Ayat 14 ) Dan daripada yang mustahil sebagaimana firman Allah Ta’ala yang bermaksud : ” ……..( kata orang Nasrani ) bahwasanya Allah Ta’ala yang ketiga daripada tiga……….”. (Surah Al-Mai’dah – Ayat 73). Dan daripada yang harus sebagaimana firman Allah Ta’ala yang bermaksud : ” Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu”. (Surah Ash. Shaffaat – Ayat 96). Kalam Allah Ta’ala itu satu sifat jua tiada berbilang. Tetapi ia berbagai-bagai jika dipandang dari perkara yang dikatakan Yaitu :
1.      Menunjuk kepada ‘amar ( perintah ) seperti tuntutan mendirikan solat dan lain-lain kefardhuan.
2.      Menunjuk kepada nahyu ( tegahan ) seperti tegahan mencuri dan lain-lain larangan.
3.      Menunjuk kepada khabar ( berita ) seperti kisah-kisah Firaundan lain-lain.
4.      Menunjuk kepada wa’ad ( janji baik ) seperti orang yang taat dan beramal soleh akan dapat balasan syurga dan lain-lain.
5.      Menunjuk kepada wa’ud ( janji balasan siksa ) seperti orang yang mendurhaka kepada ibu & bapak akan dibalas dengan azab siksa yang amat berat.
14. Kaunuhu Qadiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkuasa Mengadakan Dan Mentiadakan.
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Qudrat.
15.Kaunuhu Muridan : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu.
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala , tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Iradat.
16.Kaunuhu ‘Aliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mengetahui akan Tiap-tiap sesuatu.
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat ‚Ilmu.
17.Kaunuhu Hayyun : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Hidup.
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Hayat.
18.Kaunuhu Sami’an : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mendengar akan tiap-tiap yang Maujud.
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum, Yaitu lain daripada sifat Sama’.
19.Kaunuhu Bashiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Melihat akan tiap-tiap yang Maujudat ( Benda yang ada ).
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Bashar.
20.Kaunuhu Mutakalliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkata-kata.
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Kalam.
.
.

SIFAT MUSTAHIL BAGI ALLAH S.W.T
Wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui sifat-sifat yang mustahil bagi Allah yang menjadi lawan daripada dua puluh sifat yang wajib baginya. Maka dengan sebab itulah di nyatakan di sini sifat-sifat yang mustahil satu-persatu :
1.  ‘Adam beerti “tiada”
2.  Huduth beerti “baharu”
3.  Fana’ beerti “binasa”
4.  Mumathalatuhu Lilhawadith beerti “menyerupai makhluk”
5.  Qiyamuhu Bighayrih beerti “berdiri dengan yang lain”
6.  Ta’addud beerti “berbilang-bilang”
7.  ‘Ajz beerti “lemah”
8.  Karahah beerti “terpaksa”
9.  Jahl beerti “jahil/bodoh”
10.  Mawt beerti “mati”
11.  Samam beerti “tuli”
12.  ‘Umy beerti “buta”
13.  Bukm beerti “bisu”
14.  Kaunuhu ‘Ajizan beerti “keadaannya yang lemah”
15.  Kaunuhu Karihan beerti “keadaannya yang terpaksa”
16.  Kaunuhu Jahilan beerti “keadaannya yang jahil/bodoh”
17.  Kaunuhu Mayyitan beerti “keadaannya yang mati”
18.  Kaunuhu Asam beerti “keadaannya yang tuli”
19.  Kaunuhu A’ma beerti “keadaannya yang buta”
20.  Kaunuhu Abkam beerti “keadaannya yang bisu”
.
.
SIFAT HARUS BAGI ALLAH S.W.T
Adalah sifat yang harus pada hak Allah Ta’ala hanya satu saja Yaitu Harus bagi Allah mengadakan sesuatu atau tidak mengadakan sesuatu atau di sebut sebagai “mumkin” (Fi’lu kulli Mumkinin Autarkuhu). Mumkin  ialah sesuatu yang  harus ada dan tiada. Harus disini artinya boleh-boleh saja. Artinya boleh-boleh saja Allah SWT menciptakan sesuatu, yakni tidak ada paksaan dari sesuatu, karena Allah bersifat Qudrat dan Irodah. Dan boleh-boleh saja bagi Allah SWT meniadakan sesuatu.
.
Wallahu a’lam

Sifat Jaiz Bagi Allah

SIFAT SIFAT JAIZ BAGI ALLAH
Disamping sifat sifat wajib dan mustahil bagi allah ada lagi sifat boleh atau sifat jaiz yang dimiliki oleh Allah. Boleh atau mungkin bagi Allah menjadikan sesuatu itu ”ada” atau boleh atau mungkin membuatnya ”tidak ada”, maksudnya disini boleh melakukannya atau meninggalkannya. Allah sangat berkuasa untuk membuat sesuatu atau meninggalkannya. Contohnya, boleh atau mungkin bagi Allah menciptakan langit, bumi dan matahari dll dan dilain fihak boleh atau mungkin juga bagi Allah untuk tidak menciptakannya.
Tidak wajib bagi Allah membuat sesuatu seperti menghidupkan atau mematikan tapi Allah mempunyai hak muthlaq untuk memnghidupkan atau mematikan.
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (al-Qashash 6)
Hikmah Dan Atsar
Tidak seorangpun dari makhluk Allah yang berhak untuk memaksa Allah untuk melaksanakan atau meninggalkan sesuatu. Karena Allah adalah Dzat yang Maha Kuasa, tidak bisa dipaksa atau dikuasai. Sedangkan usaha dan doa manusia hanya sekedar perantara untuk mengharap belas kasih Allah dalam mengabulkan apa yang diinginkan. Keputusan akhir adalah mutlak ada pada kekuasaa Allah.
- الجائز في حق الله تعالى : يجوز في حقه تعالى فعل كل ممكن أو تركه فهو الفاعل المختار لكل شيئ خيرا كان أو شرا  قال الله تعالى { وَللَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ  قَدِيرٌ } و الدليل العقلي على ذلك انه لو لم يكن فعل كل ممكن أو تركه جائزا في حقه لكان واجبا فيصير الممكن واجبا و لو استحال عليه شيئ منها لصار الممكن مستحيلا و كلاهما باطل

SIFAT JAIZ ALLAH (SIFAT BOLEH BAGI ALLAH)
   
Disamping sifat sifat wajib dan mustahil bagi Allah ada lagi sifat boleh atau sifat jaiz yang dimiliki oleh Allah, artinya boleh atau mungkin bagi Allah menjadikan sesuatu itu ”ada” atau boleh atau mungkin juga membuatnya ”tidak ada”, maksudnya disini boleh melakukannya atau meninggalkannya. Allah sangat berkuasa untuk memilih, membuat sesuatu atau meninggalkannya. Dan dalam pembuatan apa saja Allah itu tidak dipaksa atau terpaksa. Contohnya, boleh atau mungkin bagi Allah menciptakan langit, bumi dan matahari dll dan dilain fihak boleh atau mungkin juga bagi Allah untuk tidak menciptakannya. Tidak wajib bagi Allah membuat sesuatu seperti menghidupkan atau mematikan tapi Allah mempunyai hak muthlaq untuk memnghidupkan atau mematikan
وَللَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
”Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Ma’idah: 17)
Jelasnya, tidak seorangpun dari makhluk Allah yang berhak untuk memaksa Allah untuk melaksanakan atau meninggalkan sesuatu. Karena Allah adalah Dzat yang Maha Kuasa. Kekuasaanya tidak bisa dipaksa. Jika bisa dipaksa berarti wajib dilakukan. Maka mustahil bagi Allah memiliki sifat itu.

Read More..

Jumat, 10 Januari 2014

NAHDLATUL WATHAN ORGANISASI PERGERAKAN KEAGAMAAN DAN KEBANGSAAN





Muslihun Muslim, M.Ag.
H. Salimul Jihad, M.Ag.
Irzani, M.Pd.



NAHDLATUL WATHAN ORGANISASI PERGERAKAN KEAGAMAAN
 DAN KEBANGSAAN

Potret dan Peran NW Pada Aspek Pendidikan, Hukum Islam, Dakwah, Tarekat, Politik, dan Pengkaderan












 







Pengantar Penulis

Telah lama penulis berpikir untuk menulis sebuah tulisan yang mengungkap berbagai aspek pemahaman dan perjuangan Nahdlatul Wathan berserta sepak terjang perjalanan hidup Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang biasa disebut ”maulanasyaikh”  oleh murid-muridnya. Keinginan ini muncul sekitar tahun 2001 atau 8 tahun yang lalu ketika penulis menimba ilmu di kota Gudeg Yogyakarta. Namun, keinginan ini kelihatannya baru dapat terwujud setelah penulis meneruskan pendidikan di Kota Semarang dalam rangka menyelesaikan pendidikan S3 di Konsentrasi Wakaf Produktif tahun 2008. Dan finisingnya baru tercapai setelah ada desakan dari panitia Muktamar NW ke XII di Mataram Tanggal 8-12 Januari 2010.
Ada beberapa alasan mengapa tulisan tentang khususnya maulanasyaikh dan Nahdlatul Wathan penting dipublikasikan. Pertama, dia adalah salah seorang perintis kemerdekaan di Pulau Lombok, sehingga Dia adalah satu-satunya putera daerah Sasak-Lombok yang telah diberi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Pusat. Kedua, dia adalah pelopor pendidikan modern di Pulau Lombok yang telah mengembangkan model pendidikan sorogan dengan sistim klasikal dan madrasi. Ketiga, dia adalah salah seorang ulama dengan basis yang sangat kuat yang mampu menggerakkan organisasi Nahdlatul Wathan setelah mendirikan NWDI (sekolah untuk kaum Adam) dan NBDI (sekolah untuk kaum Hawa) setelah menjalani amanah sebagai pengurus Wilayah NU Kedua di Nusa Tenggara. Keempat, dia adalah salah seorang ulama yang ikut mengembangkan tariqat dengan mendirikan Jama’ah Wirid Khusus NW dan mengarang sebuah kumpulan do’a yang sangat populer disebut Hizib Nahdlatul Wathan. Kelima, dia adalah ulama yang memiliki paham perlunya peran aktif ulama dalam kegiatan kenegaraan (politik praktis). Dan keenam, penulis adalah abiturien NW yang telah menamatkan pendidikan di lingkungan NW sejak SLTP, SLTA, sampai Perguruan Tinggi (Ma’had dan IAIH), sehingga penulis merasa berhutang budi untuk mengabdikan diri dalam menjaga ”warisan” Kyai Hamzanwadi lewat publikasi tulisan sehingga dapat dikenang oleh generasi penerusnya.

Dengan semangat ingin mengungkap berbagai aspek pemahaman dan perjalanan Nahdlatul Wathan dan pendirinya, maka tulisan ini kami beri judul ”Nahdlatul Wathan Organisasi Pergerakan Keagamaan dan Kebangsaan: Potret dan Peran NW Pada Aspek Pendidikan, Hukum Islam, Dakwah, Tarekat, Politik, dan Pengkaderan". Enam alasan itulah yang mendorong penulis untuk meneruskan kembali menulis tentang sosok Kyai Hamzanwadi dan Nahdlatul Wathan. Di samping itu, penulis sebagai salah seorang abituren NW juga merasa berkepentingan untuk mengikuti jejak kawan seperjuangan di Jakarta M. Noor (dkk) yang telah lebih dahulu menulis tentang maulanasyaikh dengan cukup serius dalam buku ”Visi Kebangsaan Religius: Refleksi Perjuangan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid”. Di samping itu, penulis ingin mengamalkan nasihat Kyai Hamzanwadi yang sering diungkapkannya: ”inna khairukum ’indiy anfa’ukum li nahdlatil wathan wa inna syarrakum ’indiy adlarrukum binahdlatil wathan” (sebaik-baik kamu di sisiku adalah yang paling bermanfaat bagi perjuangan Nahdlatul Wathan dan sejahat-jahat kamu adalah yang paling banyak merugikan perjuangan Nahdlatul Wathan).

Substansi tulisan ini memang tidaklah dianggap dapat mengenyangkan dari rasa kelaparan atau menghilangkan haus dari dahaga (laa yusminu walaa yugni minju') dari informasi tentang Kyai Hamzanwadi dan Nahdlatul Wathan. Tulisan ini lebih tepat dikatakan sebagai pelengkap penderita dari tulisan-tulisan sebelumya. Hanya saja perbedaan tulisan ini dengan tulisan sebelumnya adalah substansi tulisan telah diramu sedemikian rupa berdasarkan konteks keikinian yang dialami oleh Nahdlatul Wathan, terutama dengan semakin menguatnya peran TGKH. M. Zainul Majdi, MA, yang oleh TGH. Husnudduat dianggap sebagai episode "Nahdlatul Wathan Jilid Kedua".
Isi tulisan ini murni mencerminkan pemahaman penulis terhadap sosok Kyai Hamzanwadi, yang mungkin saja terjadi perbedaan dengan pembaca. Tentu saja latar belakang penulis yang pernah nyantri sekaligus bergelut di dunia akademis (khususnya IAIN) akan memberikan corak tersendiri dalam tulisan ini. Namun demikian, ada beberapa pesan Kyai Hamzanwadi yang penulis sampaikan dengan apa adanya berdasarkan hasil catatan harian penulis sewaktu nyantri di Ma’had Darul Qur’an Wa al-Hadis al-Madjidiyyah As-Syafiiyyah NW Pancor dari tahun 1993 sampai akhir 1997, paruh terakhir hayatnya Kyai Hamzanwadi. Bahkan ada beberapa pesan maulanasyaikh yang saya kutip dari buku harian kawan-kawan di Ma’had di antaranya dari sobat Masyhur dan Mujiburrahman.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih sangat sederhana dan mungkin saja masih banyak penambahan data yang harus dilakukan di masa akan datang. Kekurangan ini sangat terasa pada bab yang berbicara tentang kader NW dari masa ke masa dan perannya dalam bidang pendidikan, sosial, dan dakwah Islamiyah. Bab ini sebenarnya pernah penulis presentasikan pada "Lokakarya Penerapan Kurikulum Ke-NW-an Bagi Sekolah/Madrasah NW" pada tanggal 29 November 2009 di Mataram. Al-hamduillah, presentasi itu mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para peserta dengan banyak memberikan saran-saran dan perbaikan. Namun demikian, saran dan kritik yang konstruktif dari pembaca juga merupakan sumbangan maha berharga bagi perbaikan buku ini.
  Ucapan terima kasih tidak lupa kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penulisan dan penerbitan buku ini. Kepada mereka semua yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu kami menghaturkan terima kasih jazakumullah khairan katsiro. Sebagaimana layaknya sebuah tulisan tentu masih ditemukan kekurangan di sana sini. Akhirnya, selamat membaca. Wallah al-muwaffiq wa al-hadi ila sabil al-rasyad.
Taman Karang Baru Mataram Desember 2009






Rekomendasi

Buku ini adalah salah satu buku pegangan Kader HIMMAH NW direkomendasikan untuk dibaca, ditelaah dan dikritisi.
Buku ini diperbanyak oleh HIMMAH NW untuk kalangan bukan tujuan komersil, disebabkan bacaan ini dibutuhkan manakala saat diperbanyak belum diperbanyak oleh penulis.
Hal ini sekalgus sebagai permakluman dan apabila sudah dicetak oleh yang berhak diharapkan mencari edisi aslinya.
Dan terakhir hadiah Fatihah bagi para penulis buku, semoga apa yang telah beliau karyakan bermnafaat bagi kita semua dan mendapat balasan yang berlipat ganda di sisi Allah SWT.

Amin – amin ya Robbal Alamin


HIMMAH NW 2010



DAFTAR ISI


Bab I       Pendahuluan F
Bab II      Nahdlatul Wathan Sebagai Organisasi Pergerakan Keagamaan (Ruhiyah Diniyah) dan Pergerakan Kebangsaan (Ruhiyah Wathaniyah) F

Bab III    Konsep Perjuangan Kyai Hamzanwadi F

Bab IV     Metode Dakwah Kyai Hamzanwadi F
Bab V      Pemikiran Kyai Hamzanwadi dalam Konteks Pendidikan F
Bab VI     Hukum Islam dalam Konteks NW F
Bab VII    Pemikiran Kyai Hamzanwadi tentang Tasawuf dan Tarikat F
BabVIII    Kepemimpinan Wanita dalam Konteks Organisasi  Keagamaan: Kasus PB NW F

Bab IX    Kader NW Dari Masa Ke Masa dan Perannya dalam  Pendidikan, Sosial dan Dakwah IslamiyahF

Bab X     Regenerasi ala NW F

Bab XI    Pesan Spiritual Hamzanwadi (1993-1997) F
Bab XII   Konsep Pengkaderan di Tubuh Organisasi Nahdlatul WathanF
Bab XIII Mengapa KH. Zainul Madjdi, MA, Sang Cucu Maju
Menjadi Calon Gubernur NTB tahun 2008 F
BAB XIV Penutup F

Lampiran1: Prospek Penerapan Kurikulum Ke-NW-an Pada Madrasah/Sekolah Nahdlatul Wathan F
Lampiran2: Silaby Mata Pelajaran Ke-NW-an dari TK sampai SLTAF
Lampiran3: Silaby Mata Kuliah Ke-NW-anF






DAFTAR PUSTAKA


Buku/Jurnal/Artikel:
Abdul Hayyi Nu’man dkk., Nahdlatul Wathan Organisasi Pendidikan, Sosial, dan Dakwah Isamiyah (Selong: PD NW Lombok Timur, 1988).
Az-Zarnuji, Ta’lim Al-Muta’allim (Surabaya: Mutiara Ilmu, 1995).
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya  (Jakarta: ttp., 1971).
Fathurrahman Mukhtar, "Tela'ah terhadap Pemikiran TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid", Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 1 No. 2, Mataram Juni 2005.
H. Abdul Aziz, "Memeluk Tradisi di Alam Modern: Studi tentang Kelompok Hizib NW Lombok", dalam Mohammad Noor dkk., Visi Kebangsaan Religius.
Harian Lombok Post Tanggal 20 Desember 1999 M.
Harian Suara Merdeka, Tahun 1999.
Hartono Ahmad Jaiz, Polemik Presiden Perempuan dalam Tinjauan Islam  (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998).
Hasan Langgulung, Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke 21 (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988).
H.M. Tamyiz Muharram, “Kepemimpinan Politik Perempuan”, Makalah Seminar, Yogyakarta tanggal 13-4-1998.
Jamal D. Rahman (ed), Wacana Baru Fiqh Sosial 70 Tahun KH Ali Yafie, (Bandung: Mizan, 1997).
Jurnal Ulumuna IAIN Mataram, Volume 3.
Khafifah, “Peluang dan Hambatan Perempuan dalam Jabatan Kekuasaan Publik atau Politik di Indonesia”, Yogyakarta, Seminar Sehari Tanggal 13-4-1998.
M. Quraish Syihab, Wawasan al-Qur’an (Bandung: Mizan,1996).
M. Said, al-Qur’an dan Terjemahnya  (Bandung: ttp.,1987).
Mansur Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997).
Marwan Sarijo (et al), Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia (Jakarta: Penerbit Dharma Bakti, 1983).
Masnun, TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid: Gagasan dan Gerakan Pembaharuan Islam di Nusa Tenggara Barat (Jakarta: Pustaka al-Miqdad, 2007).
Mohammad Noor (et al), Visi Kebangsaan Religius: Refleksi Pemikiran dan Perjuangan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid 1904-1997 (Jakarta: Logos, 2004).
Muslihun, “Antara Ijtihad Klasik dan Modern”, Makalah Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Tahun 1999, tidak diterbitkan.
Oman Fathurrahman, Tanbih al-Masyi: Menyoal Wahdlatul Wujud: Kasus Abdurra’uf Sinkel di Aceh Abad 17  (Bandung: Mizan, 1999).
Said Aqiel Siraj, Jawa Post, Yogyakarta, Sabtu tanggal 21 November 1998.
Siti Ruhaini Zuhayatin, “Kepemimpinan Perempuan dalam Teks Agama Perspektif Fiqih Progresif”, Makalah Seminar, Yogyakarta, 13-4-1998.
TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid, Hizib Nahdlatul Wathan wa Nahdlatul Banat (Pancor: Toko Kita, tt.).
TGKH. M. Zainul Majdi, MA, Laa Takhof Walaa Tahzan (Mataram: Tuan Guru Bajang Center, 2008).
TGKHM. Zainuddin Abdul Madjid, Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru (Pancor: Toko “KITA”, 1975).
Yunahar Ilyas, Femenisme dalam Kajian Tafsir al-Qur’an Klasik dan Kontemporer (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998).
Yusuf al-Qhardawi, Konsep Ijtihad Kontemporer (Jakarta: Risalah Gusti, 1995.
Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3ES, 1984).

Pidato/Ceramah:
Pidato TGKH. Zainul Madjdi, M.A., Ketua Umum PB NW,, pada acara Silaturrahmi antara NW, NU, dan Muhammadiyyah NTB di Sekretariat PW NW NTB tanggal 26 September 2007.
Pidato TGKH. Zainul Madjdi, M.A., Ketua Umum PB NW,, pada acara Silaturrahmi antara NW, NU, dan Muhammadiyyah NTB di Sekretariat PW NW NTB tanggal 26 September 2007.
Pidato TGKH. Zainul Madjdi, M.A., Ketua Umum PB NW,  pada acara Silaturrahmi dan Halal Bi Halal Keluarga Besar NW Se-Kota Mataram, Sabtu 3 November 2007.
Pidato TGKH. Zainul Madjdi, M.A., Ketua Umum PB NW, pada acara Silaturrahmi antara NW, NU, dan Muhammadiyyah NTB di Sekretariat PW NW NTB tanggal 26 September 2007.
Pidato TGKH. Zainul Madjdi, M.A., Ketua Umum PB NW, pada acara Silaturrahmi antara NW, NU, dan Muhammadiyyah NTB di Sekretariat PW NW NTB tanggal 26 September 2007.
Pidato TGH. Hudatullah Muhibuddin Abdul Azis, M.A,. Ketua Dewan Musytasar PB NW, pada acara Rapat Koordinasi Pengurus Wilayah NW NTB, Ahad 6 Aprl 2008.
Pidato TGKH. Zainul Madjdi, M.A., Ketua Umum PB NW, pada acara RKKP Pengurus Wiayah NW NTB tanggal 17 Juli 2009.
Pidato Hultah NWDI ke 74, tanggal 2 Agustus 2009 di Pancor Lombok Timur.
Pidato Hultah NWDI ke 74 tanggal 2 Agustus 2009 di Anjani Lombok Timur.
Pidato Ummi Hj. Raehanun Zainuddin Pada Acara Hultah NWDI ke 74 tanggal 2 Agustus 2009 di Anjani Lombok Timur.
Pidato Hultah NWDI ke 74 tanggal 2 Agustus 2009 di Anjani Lombok Timur.
Presentasi pada Lokakarya Penerapan  Kurikulum Ke-NW-an Pada Madrasah dan Sekolah Nahdlatul Wathan di Mataram Ahad, tanggal 29 November 2009/12 Zulhijjah 1430 H.

Wawancara:
Wawancara penulis pada pengurus NW versi Pancor dan Anjani pada saat pada acara “Shilaturrahmi dan Audiensi”  HIMMAH NW Cabang Yogyakarta, pertengahan tahun 2000 M.
Wawancara dengan TGH. M. Yusuf Makmun, tanggal 9 Maret 2009.
Wawancara dengan TGH. M. Yusuf Makmun, tanggal 29 November 2009.





RIWAYAT HIDUP PENULIS

Muslihun Muslim lahir di Rensing, Lombok Timur, 13 Mei 1974. Pendidikan pertama kali di SDN No. 3 Rensing (1987), kemudian MTs NW Rensing (1990), MA Mu'allimin NW Pancor (1993),  S1 Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor (1998). Di tahun yang sama sempat mengenyam pendidikan di MDQH NW Pancor. Pendidikan S2 (1999-2001) pada Program Studi Hukum Islam Konsentrasi Muamalah (Hukum Ekonomi Islam) Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sejak tahun 2006 aktif sebagai Sekretaris III Pengurus Wilayah NW NTB. Kini, sedang menekuni kajian manajemen wakaf produktif  di S3 IAIN Walisongo Semarang.
Wisudawan terbaik I IAIH Pancor (1998) ini selain  sebagai dosen tetap Ekonomi Islam  IAIN Mataram sejak 2001, juga pernah menjabat sekretaris Lab. Al-Qur’an STAIN Mataram (2002-2006), Kepala Laboratorium Komputer Perbankan Fakultas Syari’ah IAIN Mataram (2006-2008), dosen luar biasa di Fakultas Syari’ah IAIH Pancor (sejak tahun 1998), di STITA Al-Amin Gersik Kediri (2002-2006), dan di Universitas Cordova Taliwang-Sumbawa (2004-2008). Sekarang, masih dipercaya sebagai ketua penyunting Jurnal Istinbath Fakultas Syari’ah IAIN Mataram.
Penelitian dan tulisan yang telah dipublikasikan dalam bentuk jurnal antara lain: Aplikasi Kredit di Bank Syariah dan Bank Konvensional (Lemlit, 2004), Menimbang Kegagalan Pendidikan Perspektif al-Qur’an (Jurnal Kependidikan IKIP Mataram, 2004), Argumen-Argumen Baru Pro-Kontra Bunga Bank (Jurnal Istinbath, 2004), Superioritas Suami dan Marjinalisasi Isteri dalam Perkawinan (Merari’) Adat Sasak Lombok (Lemlit, 2005), Urgensi KHI Bidang Perdata Khusus di Indonesia (Jurnal Istinbath, 2005), Poligami Islam Sasak: Mendialogkan Tradisi Sasak dan Kompilasi Hukum Islam di Lombok (Jurnal Istiqra’ Depag Pusat 2005), Pendapat Dosen IAIN Mataram tentang Penambahan Pengembalian Hutang-Piutang Uang Akibat Inflasi (Lemlit IAIN Mataram, 2007). 
Publikasi dalam bentuk buku: Pintu Cahaya al-Qur’an: Dasar-Dasar Pengajaran Tajwidul Qur’an (Buku Ajar Matrikulasi Dirasat al-Qur’an Laboratorium al-Qur’an IAIN Mataram, 2005), Fiqh Ekonomi dan Positivisasinya di Indonesia (Mataram: LKIM IAIN Mataram, 2005, 2006, dan 2007), Ulumul Qur’an (Buku Ajar Pusat Bahasa/Lab. Al-Qur’an IAIN Mataram 2007), Menolak Subordinasi, Menyeimbangkan Relasi: Beberapa Catatan Reflektif Seputar Islam dan Gender (Tim Penulis, PSW IAIN Mataram, 2007), Hutang Piutang dan Inflasi dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam (Mataram: LKBH IAIN Mataram 2008), dan Smart Manajemen: Studi Keterampilan Manajerial Pimpinan Dalam Mengefektifkan Kinerja Karyawan (Editor, 2009).


Read More..